Ia mengapresiasi dukungan Perpusnas yang dinilai membantu pemerintah daerah memperkuat gerakan literasi melalui penyediaan bahan bacaan maupun program pendampingan.
“Oke, bagus sekali. Saya kira kata kuncinya, literasi dan Mandarras adalah kunci masa depan. Dan saya banyak dibantu oleh Pak Aminudin terhadap gerakan literasi di Provinsi Sulbar. Termasuk KKN tematik tadi, itu sangat membantu sekali,” kata SDK.
Aminudin menjelaskan Festival Literasi Sulbar merupakan bagian dari program jangka panjang Perpusnas bersama pemerintah daerah melalui dinas perpustakaan untuk menggerakkan budaya literasi di masyarakat dan sekolah.
Menurutnya, buku tetap menjadi salah satu media penting dalam membangun kecakapan literasi masyarakat.
“Kita yakin bahwa buku adalah media yang paling baik untuk memulai kita meningkatkan kecakapan literasi,” katanya.
Berbagai kegiatan dalam Festival Literasi Sulbar 2026 juga melibatkan peserta didik dari jenjang TK hingga SMA. Kegiatan tersebut antara lain lomba menggambar, resensi buku, dan bertutur yang berbasis pada buku.
Selain KKN Tematik Literasi, Perpusnas juga mendukung gerakan literasi melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) serta relawan literasi.
Saat ini terdapat lima relawan literasi di Sulawesi Barat yang diharapkan dapat bertambah pada tahun berikutnya.
Perpusnas juga merencanakan kembali bantuan buku untuk desa dan taman baca masyarakat mulai 2027.
Dengan dukungan tersebut, Gerakan Sulbar Mandarras diharapkan tidak berhenti pada kegiatan festival maupun kampanye membaca, tetapi berkembang menjadi gerakan yang berlangsung di sekolah, perguruan tinggi, desa, hingga lingkungan masyarakat.
Kolaborasi pemerintah daerah, Perpusnas, perguruan tinggi, mahasiswa, sekolah dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat budaya membaca sekaligus mendukung target pembangunan sumber daya manusia Sulawesi Barat yang unggul dan berkarakter.
(*/w)












