Taman Nasional Gandang Dewata dinilai sebagai salah satu fondasi ekologis bagi masa depan Sulawesi Barat. Karena itu, upaya menjaga kelestarian kawasan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan daerah dan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
“Konservasi tidak dapat dilakukan sendirian. Pemerintah pusat tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri. Pengelola kawasan tidak dapat bekerja sendiri. Demikian pula masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan para mitra pembangunan. Kita membutuhkan kolaborasi,” demikian pesan Gubernur yang disampaikan dalam forum tersebut.
Lokakarya satu dekade pengelolaan TNGD menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan pengelolaan kawasan sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian hutan, keanekaragaman hayati, dan sumber air yang menopang kehidupan masyarakat.
Selain menjaga fungsi ekologis, pengelolaan kawasan konservasi juga diharapkan membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pendekatan pembangunan yang selaras dengan perlindungan lingkungan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan mitra pembangunan agar pengelolaan TNGD memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Upaya tersebut sejalan dengan arah pembangunan Sulawesi Barat yang menempatkan keberlanjutan lingkungan, pembangunan wilayah, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai agenda yang saling berkaitan.
Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor, kelestarian Taman Nasional Gandang Dewata diharapkan tetap terjaga sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.
(*/w)












