OPINI

TJ Masuk Mamuju, Benarkah Warga Lokal Bakal Sejahtera

×

TJ Masuk Mamuju, Benarkah Warga Lokal Bakal Sejahtera

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Mineral Bukan Logam dan Batuan (APMBLB) Sulawesi Barat, Arman Supriadi.

MAMUJU – Rencana pengembangan logam tanah jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, memunculkan pertanyaan mendasar, apakah potensi mineral strategis tersebut benar-benar akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal, atau justru membuka jalan bagi eksploitasi sumber daya alam yang dampaknya ditanggung warga?

Di tengah kegiatan eksplorasi yang berlangsung, pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan manfaat serta risiko pengembangan LTJ sejak awal.

Kajian lingkungan, keselamatan masyarakat, hingga peluang ekonomi bagi warga setempat semestinya menjadi perhatian sebelum kegiatan pertambangan melangkah lebih jauh.

Terlebih, penolakan dari masyarakat sipil dan sejumlah organisasi menunjukkan bahwa rencana pengembangan LTJ tidak bisa hanya dilihat dari sisi potensi ekonomi.

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan kehidupan masyarakat juga perlu dijawab secara terbuka.

BACA JUGA:  10 Puskesmas Ikuti Pelatihan Gizi Bencana di Mamuju

LTJ merupakan kelompok unsur mineral strategis yang dibutuhkan dalam berbagai teknologi modern, mulai dari kendaraan listrik, perangkat elektronik, magnet industri, turbin angin, hingga peralatan pertahanan. Potensi tersebut membuat pengembangan LTJ memiliki nilai ekonomi yang besar.

Namun, besarnya potensi ekonomi tidak otomatis menjamin masyarakat di sekitar wilayah tambang akan ikut sejahtera.

Manfaat investasi sangat bergantung pada tata kelola, keterlibatan tenaga kerja lokal, transparansi, serta kebijakan pemerintah dalam memastikan hasil pengelolaan sumber daya alam memberikan keuntungan bagi daerah.

Pertanyaan yang perlu dijawab sejak awal adalah apakah investasi LTJ di Mamuju akan membuka lapangan kerja yang layak, meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal, dan memberi ruang bagi pelaku usaha setempat.

BACA JUGA:  Pemprov Sulbar Matangkan Pendataan Perlindungan Sosial Berbasis Digital

Atau, eksploitasi berlangsung secara masif sementara manfaat ekonominya lebih banyak dinikmati pihak-pihak di luar daerah.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Mineral Bukan Logam dan Batuan (APMBLB) Sulawesi Barat, Arman Supriadi, sebelumnya mengingatkan bahwa pengembangan LTJ di Mamuju harus dilakukan secara hati-hati, transparan, dan berbasis data ilmiah.

Menurut Arman, potensi mineral tersebut memang dapat mendukung industri teknologi modern. Namun, peluang ekonomi itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempercepat eksploitasi tanpa kajian yang memadai.

Apalagi, sejumlah wilayah di Mamuju memiliki catatan geologi terkait uranium dan torium yang dapat berasosiasi dengan batuan pembawa LTJ.

BACA JUGA:  Informasi Cuaca BMKG Segera Terhubung Langsung ke Kanal Resmi Pemprov Sulbar

Kondisi ini membutuhkan kajian menyeluruh terhadap karakteristik mineral, teknologi pengolahan, dampak lingkungan, serta potensi risiko kesehatan.

Keberadaan uranium dan torium tidak serta-merta membuktikan bahwa kegiatan pertambangan akan membahayakan masyarakat. Namun, potensi tersebut perlu dipastikan melalui penelitian ilmiah dan ditangani sesuai standar keselamatan yang berlaku.

Belajar dari Sulawesi Tengah

Persoalan manfaat ekonomi pertambangan juga menjadi perhatian di Sulawesi Tengah, provinsi tetangga Sulawesi Barat yang berjarak ratusan kilometer dari Mamuju.

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid pernah menyoroti ketimpangan antara besarnya aktivitas pertambangan dan penerimaan yang diperoleh daerah.

Ia menyampaikan bahwa kekayaan alam di wilayahnya terus dikeruk, tetapi pendapatan yang kembali ke daerah dinilai belum sebanding.