“Yang paling penting Ponpes Al-Ikhlas ini bisa melahirkan umat Islam yang modern. Bukan umat Islam yang ekstrem, kerjanya nyalahin orang, kerjanya memprovokasi orang,” kata Nasaruddin.
Ia mengatakan keteladanan Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menciptakan kehidupan masyarakat yang tenang serta menghadirkan pemimpin dan ulama yang mampu mengakomodasi perbedaan dengan mencari titik temu.
Selain bidang pendidikan, Nasaruddin menyebut keberadaan pesantren juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ia memastikan tenaga kerja yang nantinya dibutuhkan Ponpes Al-Ikhlas Cabang Mamuju akan diprioritaskan dari masyarakat setempat.
“Karena ada juga Ponpes itu, tanpa menyebut nama, pegawainya dibawa dari Jawa akhirnya masyarakat setempat jadi penonton. Itu bukan mendidik namanya. Justru kita akan datang membawa rahmat buat masyarakat setempat,” jelasnya.
Nasaruddin menilai semakin banyak masyarakat yang diberdayakan melalui keberadaan pesantren, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan masyarakat sekitar.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan agar pembangunan Ponpes Al-Ikhlas berjalan transparan dan bebas dari praktik korupsi.
“Agar bangunannya kokoh tidak boleh ada korupsi di dalamnya,” tegasnya.
Peletakan batu pertama tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana, Ketua DPRD Sulbar, jajaran Forkopimda, pengurus pesantren, tokoh agama, tokoh masyarakat serta tamu undangan lainnya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Menteri Agama RI di Sulawesi Barat bersama Gubernur Sulbar Suhardi Duka.
(*/w)












