Plt. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulbar, Sofian Rendy Ardiansyah, mengatakan masih terdapat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai intervensi.
“Bank Indonesia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulbar itu berada di kisaran 5,2 hingga 6,2 secara kumulatif. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan kisaran pertumbuhan nasional,” jelas Sofian.
Menurut BI, terdapat empat pengungkit utama pertumbuhan ekonomi yang perlu diperkuat, yakni konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor dan belanja pemerintah.
Penguatan tersebut antara lain dilakukan melalui percepatan realisasi APBD, peningkatan investasi PMA dan PMDN, kemudahan perizinan, pembangunan infrastruktur, pengendalian harga bahan pokok, perluasan kesempatan kerja serta peningkatan produktivitas pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan.
Sektor manufaktur juga menjadi perhatian melalui upaya meningkatkan output industri dan nilai tambah produk daerah.
Pada sektor investasi, Pemprov Sulbar didorong memperluas basis investasi agar tidak hanya terkonsentrasi di wilayah dan sektor tertentu. Potensi investasi di daerah lain perlu dipetakan dengan dukungan infrastruktur dan kepastian perizinan.
BI juga mendorong penguatan sektor unggulan, terutama pertanian, perkebunan dan perikanan melalui peningkatan produktivitas serta stabilitas harga komoditas.
Selain itu, hilirisasi dan konektivitas wilayah perlu diperkuat untuk memperlancar logistik, akses pasar dan rantai pasok. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah produk sekaligus menarik investasi.
Koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga dinilai penting untuk menjaga inflasi, daya beli masyarakat serta mendukung UMKM dan sektor informal.
Melalui delapan Pokja TP2ED, Pemprov Sulbar menargetkan pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka, tetapi diterjemahkan menjadi pekerjaan yang jelas, terukur dan memiliki penanggung jawab.
(*/w)












