MAMUJU – BPBD Provinsi Sulawesi Barat memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi dampak peralihan musim, fenomena El Niño, dan potensi bencana hidrometeorologi.
Koordinasi tersebut dilakukan melalui rapat antara Kepala Pelaksana BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, dan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tampa Padang, Devi Ardiansyah, bersama jajaran masing-masing di ruang Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sulbar, Rabu (14/10/2026).
Rapat membahas prakiraan musim hujan 2026/2027, perkembangan fenomena El Niño, kondisi kualitas udara, serta potensi bencana yang dapat terjadi akibat perubahan cuaca dan iklim.
Berdasarkan pemaparan BMKG, awal musim hujan di Sulawesi Barat diperkirakan berlangsung bertahap mulai akhir Oktober hingga Desember 2026. Pada Oktober, sekitar enam Zona Musim (ZOM) atau 48 persen wilayah Sulbar diprakirakan mulai memasuki musim hujan. Sementara pada November, tiga ZOM atau sekitar 14 persen wilayah diprediksi mengalami awal musim hujan.
Dari sisi curah hujan, sebagian besar wilayah Sulbar diprakirakan masih mengalami kategori rendah pada Oktober, meskipun sejumlah wilayah di Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu diprediksi berada pada kategori menengah.
Curah hujan diperkirakan didominasi kategori menengah pada November. Selanjutnya, periode Desember 2026 hingga Maret 2027 diprakirakan diwarnai curah hujan kategori tinggi di sebagian besar wilayah Sulbar.
Perbedaan waktu masuknya musim hujan dan kondisi curah hujan tersebut menjadi perhatian dalam penyusunan langkah kesiapsiagaan di setiap kabupaten. Potensi bencana yang perlu diantisipasi meliputi banjir, tanah longsor, angin kencang, serta bencana hidrometeorologi lainnya.












