Simboro.id, Imam Al-Ghazali, dalam karya-karyanya, sering membahas tentang spiritualitas dan pentingnya malam-malam yang penuh berkah dalam Islam, termasuk Lailatul Qadar. Meskipun tidak ada satu ayat langsung dari Imam Al-Ghazali yang khusus membahas Lailatul Qadar, beliau banyak menyebutkan konsep-konsep tentang malam tersebut dalam konteks kedalaman ibadah dan pencapaian spiritual.
Malam Lailatul Qadar merupakan momen yang paling dinanti seluruh umat Muslim. Sebab, pada malam tersebut Allah menjanjikan ampunan dan keberkahan yang sangat besar bagi hamba-hamba yang menemuinya.
Hanya, kedatangannya tidak bisa diprediksi ketepatannya seratus persen. Akan tetapi, umat Muslim bisa memprediksi malam Lailatul Qadar berdasarkan pendapat para ulama. Di antara sejumlah prediksi yang ada, Imam Al-Ghazali memiliki metode yang lebih matematis.
Berikut adalah penjelasan metode Al-Ghazali yang tercantum dalam kitab I’anatuth Thalibin: Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, halaman 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:
قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة
Al-Ghazali dan lainya mengatakan bahwa lailatul Qadar diketahui berdasarkan hari pertama bulan tersebut. Jika dimulai pada hari Minggu atau Rabu, maka itu adalah malam ke-29, jika dimulai pada hari Senin, maka itu adalah malam ke-21, jika dimulai pada hari Selasa atau Jum’at, maka itu adalah malam ke-27, jika dimulai pada hari Kamis, maka itu adalah malam ke-25, dan jika dimulai pada hari Sabtu, maka itu adalah malam ke-23. syekh Abu Al-Hasan berkata, “sejak saya dewasa, saya tidak pernah melewakan Lailatul Qadr, berdasarkan aturan yang telah disebutkan diatas”.
Perhitungan Al-Ghazali ini dinilai cukup representatif, bahkan Syekh Abu Hasan asy-Syadzili pun menggunakannya. Dalam testimoninya, asy-Syadzili berkomentar, “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut.”












