Pilar ketiga adalah kepedulian sosial dari kalangan ekonomi mampu. Gubernur menekankan pentingnya zakat, sedekah, dan kewajiban membayar pajak untuk menjaga keseimbangan sosial. “Keseimbangan antara orang kaya dan masyarakat kurang mampu akan menciptakan harmoni sosial,” jelasnya.
Pilar keempat adalah tegaknya keadilan dan supremasi hukum tanpa pandang bulu. Gubernur Duka menyatakan bahwa penegakan hukum yang adil menjadi fondasi penting dalam menciptakan kepastian dan rasa aman di masyarakat. Ia menekankan bahwa aparat penegak hukum memiliki peran vital sebagai penjaga keadilan.
Selain itu, Gubernur juga menjelaskan kondisi fiskal daerah yang berdampak pada penyesuaian anggaran pembangunan, termasuk proyek infrastruktur jalan di Mamuju Tengah. Meskipun terjadi efisiensi anggaran, pemerintah tetap berusaha melanjutkan pembangunan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah.
“Yang penting kita tetap berusaha dan menempatkan anggaran secara tepat agar manfaatnya tetap dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Gubernur Duka juga menyinggung prospek komoditas kelapa sawit yang menjadi sektor utama perekonomian Mamuju Tengah. Ia mengungkapkan bahwa harga sawit diperkirakan akan stabil di kisaran Rp2.500 hingga Rp3.500 per kilogram dalam 10 tahun mendatang. Dukungan diplomasi ekonomi pemerintah pusat membuka akses ekspor sawit ke berbagai negara, sehingga permintaan global diproyeksikan terus meningkat.
Safari Ramadan tersebut diakhiri dengan doa bersama dan ajakan kepada masyarakat untuk terus memperkuat kebersamaan, optimisme, serta semangat pembangunan demi kemajuan Sulawesi Barat. (*/wu)








