Simboro.id, Ramadhan hari ini tidak hanya hadir di masjid, mushala, dan ruang-ruang privat keluarga. Ia juga hadir di layar, di televisi, di ponsel pintar, di lini masa media sosial. Sejak hari pertama, beranda kita dipenuhi kutipan ayat yang ditata estetik, video berbagi takjil dengan musik mengharukan, potongan ceramah singkat yang emosional, hingga vlog sahur selebritas yang hangat dan penuh Cahaya, Ramadhan terasa begitu indah, begitu khusyuk, begitu tertata.
Namun di tengah limpahan visual itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah Ramadhan yang tampil di layar sama dengan Ramadhan yang kita jalani dalam keseharian? Ataukah kita sedang hidup dalam versi Ramadhan yang lebih memesona secara visual, tetapi tidak selalu sedalam dalam praktik? Jangan-jangan, Ramadhan hari ini lebih indah di layar daripada dalam praksis hidup sehari-hari.
Media digital bekerja dengan satu hukum utama: perhatian adalah komoditas. Apa yang menarik, emosional, dan mudah dibagikan akan lebih cepat menyebar. Platform seperti YouTube, Instagram dan TikTok membentuk budaya komunikasi yang serba ringkas, visual, cepat, dan kompetitif. Dakwah pun beradaptasi. Ceramah panjang dipadatkan menjadi klip satu menit. Pesan moral diringkas menjadi satu kalimat yang kuat. Kisah hijrah dikemas dramatik. Bahkan aktivitas berbagi takjil direkam dengan sudut kamera sinematik, lengkap dengan pencahayaan hangat dan musik latar yang menggugah haru.
Media, tentu saja, bukan musuh spiritualitas. Justru ia membuka peluang dakwah yang lebih inklusif. Kajian daring dapat menjangkau jutaan orang lintas wilayah dan generasi. Anak muda yang mungkin enggan hadir secara fisik di majelis taklim bisa tersentuh oleh satu video pendek yang lewat di berandanya. Namun ketika logika algoritma menjadi dominan, Agama tidak lagi hanya disampaikan sebagai pesan, melainkan juga dikemas sebagai konten. Dan konten harus menarik. Konten harus kompetitif. Konten harus memiliki daya pikat visual. Maka Di sinilah problem mulai muncul: apakah pesan spiritual tetap menjadi inti, ataukah ia perlahan tunduk pada logika pasar perhatian?
Untuk membaca fenomena ini, kita dapat merujuk pada konsep hyperreality atau hiperrealitas dari Jean Baudrillard seorang pakar teori kebudayaan, filsuf kontemporer, komentator politik, sosiolog, dan fotografer asal Prancis. Dalam pemikirannya, hiperrealitas adalah kondisi ketika batas antara realitas dan representasi menjadi kabur, bahkan representasi lebih dominan daripada realitas itu sendiri. Secara sederhana, hiperrealitas terjadi ketika gambaran tentang sesuatu terasa lebih nyata daripada pengalaman aslinya. Dalam masyarakat modern yang dipenuhi citra iklan, televisi, media social, manusia sering kali berinteraksi lebih intens dengan representasi ketimbang dengan kenyataan langsung.
Baudrillard menyebut dunia ini sebagai dunia simulakra: dunia tanda dan simbol yang terus direproduksi hingga orang lebih mengenal versi media daripada pengalaman riilnya.
Dalam konteks Ramadhan, hiperrealitas muncul ketika gambaran Ramadhan di layar terasa lebih sempurna, lebih khusyuk, dan lebih harmonis daripada Ramadhan dalam kehidupan nyata. Di media sosial, Ramadhan tampak selalu damai. Tadarus selalu lancar. Sedekah selalu tersenyum. Keluarga selalu kompak. Konflik jarang terlihat. Lelah jarang disorot. Emosi yang naik-turun hampir tak pernah menjadi konten.
Padahal Ramadhan dalam kenyataan sering kali tidak seindah itu. Bangun sahur dengan mata berat. Menahan emosi saat lapar dan letih. Ibadah yang kadang semangat, kadang menurun. Niat baik yang terselip godaan konsumtif menjelang Lebaran. Semua itu adalah bagian dari pengalaman spiritual yang manusiawi. Namun layar cenderung hanya menampilkan versi ideal. Maka terbentuklah standar baru tentang seperti apa Ramadhan yang “seharusnya”, Ramadhan menjadi hiperreal-lebih sempurna dalam citra dari pada dalam realitas hidup.
Fenomena ini juga dapat dibaca melalui lensa komodifikasi sebagaimana dipaparkan oleh Karl Marx. Komodifikasi adalah proses ketika sesuatu yang semula bernilai intrinsik diubah menjadi bernilai tukar dalam sistem ekonomi. Ramadhan yang pada dasarnya adalah momentum spiritual berpotensi berubah menjadi musim ekonomi. Tayangan religi meningkat. Iklan bernuansa Islami bermunculan. Figur publik melakukan rebranding religius musiman. Simbol-simbol seperti adzan, hijab, peci, dan narasi hijrah menjadi bagian dari strategi pemasaran.
Dalam perspektif ekonomi politik media ala Vincent Mosco, media tidak pernah sepenuhnya netral. Ia berada dalam struktur kepemilikan dan kepentingan ekonomi. Momentum religius menjadi ruang strategis untuk menarik iklan dan meningkatkan rating. Ini bukan tuduhan moral semata, melainkan deskripsi struktural. Media adalah industri. Industri membutuhkan pemasukan. Tetapi di titik tertentu, nilai sakral bisa tereduksi menjadi sekadar ornamen komersial jika tidak ada kesadaran etis.
Perubahan ini juga dapat dipahami melalui konsep mediatization of religion yang dikemukakan oleh Stig Hjarvard. Menurutnya, dalam masyarakat modern, agama semakin dipahami melalui logika media. Media bukan sekadar saluran penyampai pesan agama, tetapi aktor yang membentuk cara agama dimaknai. Artinya, bukan hanya isi dakwah yang penting, tetapi juga format, gaya, durasi, dan cara penyajiannya. Ketika ceramah harus mengikuti ritme algoritma, pesan spiritual ikut mengalami penyederhanaan.
Yang reflektif dan kontemplatif kalah oleh yang dramatis dan viral. Yang kompleks dipadatkan menjadi slogan. Yang mendalam diringkas menjadi potongan motivasi. Tanpa disadari, media tidak hanya menyebarkan agama, tetapi juga membentuk standar bagaimana agama “seharusnya” tampil.
Paparan berulang terhadap model kesalehan tertentu dapat membentuk persepsi publik tentang religiusitas. Di sini, pemikiran George Gerbner tentang teori kultivasi menjadi relevan. Ia menyatakan bahwa paparan media jangka panjang membentuk persepsi seseorang tentang realitas sosial. Jika selama sebulan penuh publik disuguhi citra kesalehan yang sangat visual, sangat produktif, dan selalu positif, maka itu dapat menjadi standar “normal” baru.
Orang bisa merasa kurang religius karena Ramadhannya tidak seindah yang tampil di layar. Kesalehan diukur dari visibilitas. Spiritualitas menjadi sesuatu yang tampak. Di sinilah risiko spiritualitas performatif muncul-ketika ibadah perlahan bergeser dari relasi vertikal dengan Tuhan menjadi relasi horizontal dengan audiens.
Namun melihat fenomena ini secara hitam-putih juga tidak adil. Publikasi kebaikan bisa menjadi inspirasi. Konten positif bisa mendorong orang lain melakukan hal serupa. Media digital telah membantu banyak orang menemukan kembali semangat religiusitasnya.
Masalahnya bukan pada keberadaan media, melainkan pada kesadaran dalam menggunakannya. Pertanyaan reflektif yang patut diajukan adalah: apakah kita menjalani Ramadhan untuk memperbaiki diri, atau untuk membangun citra diri? Apakah kita lebih sibuk mengabadikan momen ibadah daripada menghayatinya?
Ramadhan tidak perlu dijauhkan dari teknologi. Dakwah digital adalah keniscayaan. Konten religius di media sosial adalah bagian dari dinamika zaman. Namun Ramadhan juga membutuhkan ruang sunyi-ruang yang tidak diunggah, tidak disiarkan, tidak diberi tagar.
Spiritualitas yang paling dalam sering kali tidak memiliki dokumentasi. Ia tidak viral. Ia tidak spektakuler. Tetapi justru di situlah letak transformasinya. Ramadhan seharusnya tidak hanya bercahaya di layar, tetapi juga mengendap dalam kesadaran dan tindakan. Ia tidak cukup menjadi tontonan yang mengharukan, tetapi harus menjadi tuntunan yang mengubah.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan algoritma, bukan kamera, bukan jumlah penonton-melainkan kualitas relasi kita dengan nilai-nilai yang kita yakini. Ramadhan mungkin tampil sangat memesona dalam hiperrealitas media. Tetapi maknanya yang sejati tetap tumbuh dalam praksis keseharian-dalam kesabaran yang tidak dipamerkan, dalam sedekah yang tidak direkam, dalam doa yang tidak disiarkan.
Jika hiperrealitas membuat Ramadhan tampak sempurna, maka kesadaran kritislah yang mengembalikannya menjadi autentik, Sebab esensi ibadah bukan pada seberapa indah ia terlihat, melainkan seberapa dalam ia membentuk diri. Selamat Berpuasa.
M. Abid Alimuddin Lidda, Dosen Ilmu Komunikasi. (*)


