Selain itu, Gubernur Suhardi Duka mengajak para pelaku UMKM untuk lebih aktif mengembangkan produk lokal seperti kopi Mamasa, markisa, dan nenas. Ia mendorong pengolahan produk-produk ini agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi di pasar. Sebagai contoh, kopi Mamasa seharusnya tidak hanya dijual dalam bentuk biji mentah, tetapi dikemas dengan merek dan desain menarik. “Kopi Mamasa harus sudah dalam bentuk bubuk, dikemas bagus, dan punya merek,” tegasnya.
Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, dalam laporannya menyampaikan bahwa event “Bulan Mamase” telah menjadi bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal di daerah berjuluk Bumi Kondosapata Wai Sapalelean. Selain itu, event ini juga bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata dan sumber daya alam Mamasa. Ia berharap event ini bisa menjadi milik Indonesia dan bahkan dunia, dengan dukungan dari pemerintah provinsi dan dinas terkait.
Event “Bulan Mamase” yang berlangsung dari 6 hingga 30 April 2026 ini melibatkan sekitar 48 UMKM lokal dan menjadi kesempatan bagi para diaspora Mamasa untuk pulang kampung dan berbagi dalam kebersamaan. (*/wu)












