“Di Makassar, tidak ada kegiatan sosial dan keagamaan tanpa kehadiran almarhum. Apakah itu kematian, perkawinan, apa saja, pokoknya pasti ada Pak Sukardy, begitu pedulinya beliau,” kenang Sdk.
Namun yang paling membekas dalam ingatan Suhardi adalah sikap politik Sukardy yang tidak pernah ingin terlibat dalam konflik. “Dia selalu berada di tengah, di saat orang lain terjebak dalam konflik, dia pasti ada di tengah. Dia tidak ingin membesarkan konflik, tetapi selalu ingin meredamkan dan meniadakan konflik,” ujar Sdk.
Gubernur Suhardi Duka juga menambahkan bahwa selama ia mengenal Sukardy, ia tak pernah mendengar almarhum terlibat perselisihan dengan siapa pun. “Saya tahu bahwa ketekunan agama almarhum sangat kuat dan sebagaimana dikatakan tadi, tidak pernah saya dengar Pak Sukardy clash dengan orang lain,” tambahnya.
Bagi Gubernur Suhardi Duka, sikap almarhum Sukardy yang selalu menjadi penyejuk dalam perbedaan, terutama di tengah dinamika sosial-politik, adalah kenangan yang paling berkesan. Ia mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik. (*/wu)












