“Sulawesi Barat surplus 75.000 ton beras setiap tahunnya, sementara Kalimantan Timur masih minus. Jaraknya hanya dipisahkan oleh selat, jadi kita perlu mempercepat distribusi,” kata Rudy Mas’ud.
Untuk mendukung kelancaran distribusi, salah satu solusi yang dibahas adalah penyediaan kapal cepat dengan kecepatan sekitar 25 hingga 30 knot, yang dapat mengurangi waktu tempuh antara Sulbar dan Kaltim menjadi hanya sekitar 4 hingga 5 jam.
Kapal cepat ini diharapkan menjadi sarana transportasi yang efisien untuk mobilisasi barang, orang, dan jasa. Selain beras dan kambing, kedua provinsi juga berencana menjajaki kerja sama dalam komoditas lain seperti sapi, ayam petelur, dan material bangunan. Kalimantan Timur juga berpotensi untuk menyuplai energi bagi Sulbar.
Kolaborasi antara Sulbar dan Kaltim ini diharapkan dapat memperkuat perekonomian kedua daerah, menciptakan hubungan yang saling menguntungkan, dan membuka peluang baru dalam sektor pangan, peternakan, serta transportasi laut. (*/wu)












